Jumat, 30 Oktober 2009

TTG BUDIDAYA PERIKANAN

BUDIDAYA IKAN MAS

1. SEJARAH SINGKAT

Ikan mas merupakan jenis ikan konsumsi air tawar, berbadan memanjang pipih

kesamping dan lunak. Ikan mas sudah dipelihara sejak tahun 475 sebelum masehi di

Cina. Di Indonesia ikan mas mulai dipelihara sekitar tahun 1920. Ikan mas yang terdapat

di Indonesia merupakan merupakan ikan mas yang dibawa dari Cina, Eropa, Taiwan

dan Jepang. Ikan mas Punten dan Majalaya merupakan hasil seleksi di Indonesia.

Sampai saat ini sudah terdapat 10 ikan mas yang dapat diidentifikasi berdasarkan

karakteristik morfologisnya.

2. SENTRA PERIKANAN

Budidaya ikan mas telah berkembang pesat di kolam biasa, di sawah, waduk, sungai air

deras, bahkan ada yang dipelihara dalam keramba di perairan umum. Adapun sentra

produksi ikan mas adalah: Ciamis, Sukabumi, Tasikmalaya, Bogor, Garut, Bandung,

Cianjur, Purwakarta

3. JENIS

Dalam ilmu taksonomi hewan, klasifikasi ikan mas adalah sebagai berikut:

Kelas : Osteichthyes

Anak kelas : Actinopterygii

Bangsa : Cypriniformes

Suku : Cyprinidae

Marga : Cyprinus

Jenis : Cyprinus carpio L.

Saat ini ikan mas mempunyai banyak ras atau stain. Perbedaan sifat dan ciri dari ras

disebabkan oleh adanya interaksi antara genotipe dan lingkungan kolam, musim dan

cara pemeliharaan yang terlihat dari penampilan bentuk fisik, bentuk tubuh dan

warnanya. Adapun ciri-ciri dari beberapa strain ikan mas adalah sebagai berikut:

1. Ikan mas punten: sisik berwarna hijau gelap; potongan badan paling pendek;

bagian punggung tinggi melebar; mata agak menonjol; gerakannya gesit;

perbandingan antara panjang badan dan tinggi badan antara 2,3:1.

2. Ikan mas majalaya: sisik berwarna hijau keabu-abuan dengan tepi sisik lebih

gelap; punggung tinggi; badannya relatif pendek; gerakannya lamban, bila diberi

makanan suka berenang di permukaan air; perbandingan panjang badan dengan

tinggi badan antara 3,2:1.

3. Ikan mas si nyonya: sisik berwarna kuning muda; badan relatif panjang; mata

pada ikan muda tidak menonjol, sedangkan ikan dewasa bermata sipit;

gerakannya lamban, lebih suka berada di permukaan air; perbandingan panjang

badan dengan tinggi badan antara 3,6:1.

4. Ikan mas taiwan: sisik berwarna hijau kekuning-kuningan; badan relatif panjang;

penampang punggung membulat; mata agak menonjol; gerakan lebih gesit dan

aktif; perbandingan panjang badan dengan tinggi badan antara 3,5:1.

5. Ikan mas koi: bentuk badan bulat panjang dan bersisisk penuh; warna sisik

bermacam-macam seperti putih, kuning, merah menyala, atau kombinasi dari

warna-warna tersebut. Beberapa ras koi adalah long tail Indonesian carp, long

tail platinm nishikigoi, platinum nishikigoi, long tail shusui nishikigoi, shusi

nishikigoi, kohaku hishikigoi, lonh tail hishikigoi, taishusanshoku nshikigoi dan

long tail taishusanshoku nishikigoi. Dari sekian banyak strain ikan mas, di Jawa

Barat ikan mas punten kurang berkembang karena diduga orang Jawa Barat

lebih menyukai ikan mas yang berbadan relatif panjang. Ikan mas majalaya

termasuk jenis unggul yang banyak dibudidayakan.

4. MANFAAT

1. Sebagai sumber penyediaan protein hewani.

2. Sebagai ikan hias.

5. PERSYARATAN LOKASI

1. Tanah yang baik untuk kolam pemeliharaan adalah jenis tanah liat/lempung,

tidak berporos. Jenis tanah tersebut dapat menahan massa air yang besar dan

tidak bocor sehingga dapat dibuat pematang/dinding kolam.

2. Kemiringan tanah yang baik untuk pembuatan kolam berkisar antara 3-5% untuk

memudahkan pengairan kolam secara gravitasi.

3. Ikan mas dapat tumbuh normal, jika lokasi pemeliharaan berada pada ketinggian

antara 150-1000 m dpl.

4. Kualitas air untuk pemeliharaan ikan mas harus bersih, tidak terlalu keruh dan

tidak tercemar bahan-bahan kimia beracun, dan minyak/limbah pabrik.

5. Ikan mas dapat berkembang pesat di kolam, sawah, kakaban, dan sungai air

deras. Kolam dengan sistem pengairannya yang mengalir sangat baik bagi

pertumbuhan dan perkembangan fisik ikan mas. Debit air untuk kolam air tenang

8-15 liter/detik/ha, sedangkan untuk pembesaran di kolam air deras debitnya 100

liter/menit/m³.

6. Keasaman air (pH) yang baik adalah antara 7-8.

7. Suhu air yang baik berkisar antara 20-25°C.

6. PEDOMAN TEKNIS BUDIDAYA

1. Penyiapan Sarana dan Peralatan

1. Kolam

Lokasi kolam dicari yang dekat dengan sumber air dan bebas banjir.

Kolam dibangun di lahan yang landai dengan kemiringan 2–5% sehingga

memudahkan pengairan kolam secara gravitasi.

1. Kolam pemeliharaan induk

Luas kolam tergantung jumlah induk dan intensitas

pengelolaannya. Sebagai contoh untuk 100 kg induk memerlukan

kolam seluas 500 meter persegi bila hanya mengandalkan pakan

alami dan dedak. Sedangkan bila

diberi pakan pelet, maka untuk 100 kg induk memerlukan luas

150-200 meter persegi saja. Bentuk kolam sebaiknya persegi

panjang dengan dinding bisa ditembok atau kolam tanah dengan

dilapisi anyaman bambu bagian dalamnya. Pintu pemasukan air

bisa dengan paralon dan dipasang sarinya, sedangkan untuk

pengeluaran air sebaiknya berbentuk monik.

2. Kolam pemijahan

Tempat pemijahan dapat berupa kolam tanah atau bak tembok.

Ukuran/luas kolam pemijahan tergantung jumlah induk yang

dipijahkan dengan bentuk kolam empat persegi panjang. Sebagai

patokan bahwa untuk 1 ekor induk dengan berat 3 kg memerlukan

luas kolam sekitar 18 m² dengan 18 buah ijuk/kakaban. Dasar

kolam dibuat miring kearah pembuangan, untuk menjamin agar

dasar kolam dapat dikeringkan. Pintu pemasukan bisa dengan

pralon dan pengeluarannya bisa juga memakai pralon (kalau

ukuran kolam kecil) atau pintu monik. Bentuk kolam penetasan

pada dasarnya sama dengan kolam pemijahan dan seringkali juga

untuk penetasan menggunakan kolam pemijahan. Pada kolam

penetasan diusahakan agar air yang masuk dapat menyebar ke

daerah yang ada telurnya.

3. Kolam pendederan

Bentuk kolam pendederan yang baik adalah segi empat. Untuk

kegiatan pendederan ini biasanya ada beberapa kolam yaitu

pendederan pertama dengan luas 25-500 m 2 dan pendederan

lanjutan 500-1000 m 2 per petak. Pemasukan air bisa dengan

pralon dan pengeluaran/ pembuangan dengan pintu berbentuk

monik. Dasar kolam dibuatkan kemalir (saluran dasar) dan di

dekat pintu pengeluaran dibuat kubangan. Fungsi kemalir adalah

tempat berkumpulnya benih saat panen dan kubangan untuk

memudahkan penangkapan benih. dasar kolam dibuat miring ke

arah pembuangan. Petak tambahan air yang mempunyai

kekeruhan tinggi (air sungai) maka perlu dibuat bak pengendapan

dan bak penyaringan.

2. Peralatan

Alat-alat yang biasa digunakan dalam usaha pembenihan ikan mas

diantaranya adalah: jala, waring (anco), hapa (kotak dari jaring/kelambu

untuk menampung sementara induk maupun benih), seser, emberember,

baskom berbagai ukuran, timbangan skala kecil (gram) dan besar

(kg), cangkul, arit, pisau serta piring secchi (secchi disc) untuk mengukur

kadar kekeruhan. Sedangkan peralatan lain yang digunakan untuk

memanen/menangkap ikan mas antara lain adalah warring / scoopnet

yang halus, ayakan panglembangan diameter 100 cm, ayakan

penandean diameter 5 cm, tempat menyimpan ikan, keramba kemplung,

keramba kupyak, fish bus (untuk mengangkut ikan jarak dekat), kekaban

(untuk tempat penempelan telur yang bersifat melekat), hapa dari kain

tricote (untuk penetasan telur secara terkontrol) atau kadang-kadang

untuk penangkapan benih, ayakan penyabetan dari alumunium/bambu,

oblok/delok (untuk pengangkut benih), sirib (untuk menangkap benih

ukuran 10 cm keatas), anco/hanco (untuk menangkap ikan), lambit dari

jaring nilon (untuk menangkap ikan konsumsi), scoopnet (untuk

menangkap benih ikan yang berumur satu minggu keatas), seser

(gunanya= scoopnet, tetapi ukurannya lebih besar), jaring berbentuk

segiempat (untuk menangkap induk ikan atau ikan konsumsi).

3. Persiapan Media

Yang dimaksud dengan persiapan adalah melakukan penyiapan media

untuk pemeliharaan ikan, terutama mengenai pengeringan, pemupukan

dlsb. Dalam menyiapkan media pemeliharaan ini, yang perlu dilakukan

adalah pengeringan kolam selama beberapa hari, lalu dilakukan

pengapuran untuk memberantas hama dan ikan-ikan liar sebanyak 25-

200 gram/meter persegi, diberi pemupukan berupa pupuk buatan, yaitu

urea dan TSP masing-masing dengan dosis 50-700 gram/meter persegi,

bisa juga ditambahkan pupuk buatan yang berupa urea dan TSP masingmasing

dengan dosis 15 gram dan 10 gram/meter persegi.

2. Pembibitan

1. Pemilihan Bibit dan Induk

Usaha pembenihan ikan mas dapat dilakukan dengan berbagai cara yaitu

secara tradisional, semi intensif dan secara intensif. Dengan semakin

meningkatnya teknologi budidaya ikan, khususnya teknologi pembenihan

maka telah dilaksanakan penggunaan induk-induk yang berkualitas baik.

Keberhasilan usaha pembenihan tidak lagi banyak bergantung pada

kondisi alam namun manusia telah banyak menemukan kemajuan

diantaranya pemijahan dengan hipofisisasi, peningkatan derajat

pembuahan telur dengan teknik pembunuhan buatan, penetasan telur

secara terkontrol, pengendalian kuantitas dan kualitas air, teknik kultur

makanan alami dan pemurnian kualitas induk ikan. Untuk peningkatan

produksi benih perlu dilakukan penyeleksian terhadap induk ikan mas.

􀂃 Adapun ciri-ciri induk jantan dan induk betina unggul yang sudah

matang untuk dipijah adalah sebagai berikut:

1. Betina: umur antara 1,5-2 tahun dengan berat berkisar 2

kg/ekor; Jantan: umur minimum 8 bulan dengan berat

berkisar 0,5 kg/ekor.

2. Bentuk tubuh secar akeseluruhan mulai dari mulut sampai

ujung sirip ekor mulus, sehat, sirip tidak cacat.

3. Tutup insan normal tidak tebal dan bila dibuka tidak

terdapat bercak putih; panjang kepala minimal 1/3 dari

panjang badan; lensa mata tampak jernih.

4. Sisik tersusun rapih, cerah tidak kusam.

5. Pangkal ekor kuat dan normal dengan panjang panmgkal

ekor harus lebih panjang dibandingkan lebar/tebal ekor.

􀂃 Sedangkan ciri-ciri untuk membedakan induk jantan dan induk

betina adalah sebagai berikut:

1. Betina

􀂃 Badan bagian perut besar, buncit dan lembek.

􀂃 Gerakan lambat, pada malam hari biasanya loncatloncat.

􀂃 Jika perut distriping mengeluarkan cairan berwarna

kuning.

2. Jantan

􀂃 Badan tampak langsing.

􀂃 Gerakan lincah dan gesit.

􀂃 Jika perut distriping mengeluarkan cairan sperma

berwarna putih.

2. Sistim Pembenihan/Pemijahan

Saat ini dikenal dua macam sistim pemijahan pada budidaya ikan mas,

yaitu

0. Sistim pemijahan tradisional

Dikenal beberapa cara melakukan pemijahan secara tradisional,

yaitu:

􀂃 Cara sunda:

1. luas kolam pemijahan 25-30 meter persegi, dasar

kolam sedikit berlumpur, kolam dikeringkan lalu

diisi air pada pagi hari, induk dimasukan pada sore

hari;

2. disediakan injuk untuk menepelkan telur;

3. setelah proses pemijahan selesai, ijuk dipindah ke

kolam penetasan.

􀂃 Cara cimindi:

0. luas kolam pemijahan 25-30 meter persegi, dasar

kolam sedikit berlumpur, kolam dikeringkan lalu

diisi air pada pagi hari, induk dimasukan pada sore

hari; kolam pemijahan merupakan kolam

penetasan;

1. disediakan injuk untuk menepelkan telur, ijuk dijepit

bambu dan diletakkan dipojok kolam dan dibatasi

pematang antara dari tanah;

2. setelah proses pemijahan selesai induk

dipindahkan ke kolam lain;

3. tujuh hari setelah pemijahan ijuk ini dibuka

kemudian sekitar 2-3 minggu setelah itu dapat

dipanen benih-benih ikan.

􀂃 Cara rancapaku:

0. luas kolam pemijahan 25-30 meter persegi, dasar

kolam sedikit berlumpur, kolam dikeringkan lalu

diisi air pada pagi hari, induk dimasukan pada sore

hari; kolam pemijahan merupakan kolam

penetasan, batas pematang antara terbuat dari

batu;

1. disediakan rumput kering untuk menepelkan telur,

rumput disebar merata di seluruh permukaan air

kolam dan dibatasi pematang antara dari tanah;

2. setelah proses pemijahan selesai induk tetap di

kolam pemijahan.;

3. setelah benih ikan kuat maka akan berpindah

tempat melalui sela bebatuan, setelah 3 minggu

maka benih dapat dipanen.

􀂃 Cara sumatera:

0. luas kolam pemijahan 5 meter persegi, dasar kolam

sedikit berlumpur, kolam dikeringkan lalu diisi air

pada pagi hari, induk dimasukan pada sore hari;

kolam pemijahan merupakan kolam penetasan;

1. disediakan injuk untuk menepelkan telur, ijuk

ditebar di permukaan air;

2. setelah proses pemijahan selesai induk

dipindahkan ke kolam lain;

3. setelah benih berumur 5 hari lalu pindahkan ke

kolam pendederan.

􀂃 Cara dubish:

0. luas kolam pemijahan 25-50 meter persegi, dibuat

parit keliling dengan lebar 60 cm dalam 35 cm,

kolam dikeringkan lalu diisi air pada pagi hari, induk

dimasukan pada sore hari; kolam pemijahan

merupakan kolam penetasan;

1. sebagai media penempel telur digunakan tanaman

hidup seperti Cynodon dactylon setinggi 40 cm;

2. setelah proses pemijahan selesai induk

dipindahkan ke kolam lain;

3. setelah benih berumur 5 hari lalu pindahkan ke

kolam pendederan.

􀂃 Cara hofer:

0. sama seperti cara dubish hanya tidak ada parit dan

tanaman Cynodon dactylon dipasang di depan

pintu pemasukan air.

1. Sistim kawin suntik

Pada sisitim ini induk baik jantan maupun betina yang matang

bertelur dirangsang untuk memijah setelah penyuntikan ekstrak

kelenjar hyphofise ke dalam tubuh ikan. Kelenjar hyphofise

diperoleh dari kepala ikan donor (berada dilekukan tulang

tengkorak di bawah otak besar). Setelah suntikan dilakukan dua

kali, dalam tempo 6 jam induk akan terangsang melakukan

pemijahan. Sistim ini memerlukan biaya yang tinggi, sarana yang

lengkap dan perawatan yang intensif.

3. Pembenihan/Pemijahan

Hal yang perlu diperhatikan dalam melakukan pemijahan ikan mas:

0. Dasar kolam tidak berlumpur, tidak bercadas.

1. Air tidak terlalu keruh; kadar oksigen dalam air cukup; debit air

cukup; dan suhu berkisar 25 derajat C.

2. Diperlukan bahan penempel telur seperti ijuk atau tanaman air.

3. Jumlah induk yang disebar tergantung dari luas kolam, sebagai

patokan seekor induk berat 1 kg memerlukan kolam seluas 5

meter persegi.

4. Pemberian makanan dengan kandungan protein 25%. Untuk

pellet diberikan secara teratur 2 kali sehari (pagi dan sore hari)

dengan takaran 2-4% dari jumlah berat induk ikan.

4. Pemeliharaan Bibit/Pendederan

Pendederan atau pemeliharaan anak ikan mas dilakukan setelah telurtelur

hasil pemijahan menetas. Kegiatan ini dilakukan pada kolam

pendederan (luas 200-500 meter persegi) yang sudah siap menerima

anak ikan dimana kolam tersebut dikeringkan terlebih dahulu serta

dibersihkan dari ikan-ikan liar. Kolam diberi kapur dan dipupuk sesuai

ketentuan. Begitu pula dengan pemberian pakan untuk bibit diseuaikan

dengan ketentuan. Pendederan ikan mas dilakukan dalam beberapa

tahap, yaitu:

0. Tahap I: umur benih yang disebar sekitar 5-7 hari(ukuran1-1,5

cm); jumlah benih yang disebar=100-200 ekor/meter persegi;

lama pemeliharaan 1 bulan; ukuran benih menjadi 2-3 cm.

1. Tahap II: umur benih setelah tahap I selesai; jumlah benih yang

disebar=50-75 ekor/meter persegi; lama pemeliharaan 1 bulan;

ukuran benih menjadi 3-5 cm.

2. Tahap III: umur benih setelah tahap II selesai; jumlah benih yang

disebar=25-50 ekor/meter persegi; lama pemeliharaan 1 bulan;

ukuran benih menjadi 5-8 cm; perlu penambahan makanan

berupa dedak halus 3-5% dari jumlah bobot benih.

3. Tahap IV: umur benih setelah tahap III selesai; jumlah benih yang

disebar=3-5 ekor/meter persegi; lama pemeliharaan 1 bulan;

ukuran benih menjadi 8-12 cm; perlu penambahan makanan

berupa dedak halus 3-5% dari jumlah bobot benih.

5. Perlakuan dan Perawatan Bibit

Apabila benih belum mencapai ukuran 100 gram, maka benih diberi

pakan pelet 2 mm sebanyak 3 kali bobot total benih yang diberikan 4 kali

sehari selama 3 minggu.

3. Pemeliharaan Pembesaran

Pemeliharaan pembesaran dapat dilakukan secara polikultur maupun

monokultur.

1. Polikultur

0. ikan mas 50%, ikan tawes 20%, dan mujair 30%, atau

1. ikan mas 50%, ikan gurame 20% dan ikan mujair 30%.

2. Monokultur

Pemeliharaan sistem ini merupakan pemeliharaan terbaik dibandingkan

dengan polikultur dan pada sistem ini dilakukan pemisahan antara induk

jantan dan betina.

0. Pemupukan

Pemupukan dengan kotoran kandang (ayam) sebanyak 250-500

gram/m 2 , TSP 10 gram/m 2 , Urea 10 gram/m 2 , kapur 25-100

gram/m 2 . Setelah itu kolam diisi air 39\0-40 cm. Biarkan 5-7 hari.

Dua hari setelah pengisian air, kolam disemprot dengan

insektisida organophosphat seperti Sumithion 60 EC, Basudin 60

EC dengan dosis 2-4 ppm. Tujuannya untuk memberantas

serangga dan udang-udangan yang memangsa rotifera. Setelah 7

hari kemudian, air ditinggikan sekitar 60 cm. Padat penebaran

ikan tergantung pemeliharaannya. Jika hanya mengandalkan

pakan alami dan dedak, maka padat penebaran adalah 100-200

ekor/m 2 , sedangkan bila diberi pakan pellet, maka penebaran

adalah 300-400 ekor/m 2 (benih lepas hapa). Penebaran

dilakukan pada pagi/sore hari saat suhu rendah.

1. Pemberian Pakan

Dalam pembenihan secara intensif biasanya diutamakan

pemberian pakan buatan. Pakan yang berkualitas baik

mengandung zat-zat makanan yang cukup, yaitu protein yang

mengandung asam amino esensial, karbohidrat, lemak, vitamin

dan mineral. Perawatan larva dalam hapa sekitar 4-5 hari. Setelah

larva tidak menempel pada kakaban (3-4 hari kemudian) kakaban

diangkat dan dibersihkan. Pemberian pakan untuk larva, 1 butir

kuning telur rebus untuk 100.000 ekor/hari. Caranya kuning telur

dibuat suspensi (1/4 liter air untuk 1 butir), kuning telur diremas

dalam kain kemudian diberikan pada benih, perawatan 5-7 hari.

2. Pemeliharaan Kolam/Tambak

Dalam hal pemeliharaan ikan mas yang tidak boleh terabaikan

adalah menjaga kondisi perairan agar kualitas air cukup stabil dan

bersih serta tidak tercemari/teracuni oleh zat beracun.

7. HAMA DAN PENYAKIT

1. Hama

1. Bebeasan (Notonecta)

Berbahaya bagi benih karena sengatannya. Pengendalian: menuangkan

minyak tanah ke permukaan air 500 cc/100 meter persegi.

2. Ucrit (Larva cybister)

Menjepit badan ikan dengan taringnya hingga robek. Pengendalian: sulit

diberantas; hindari bahan organik menumpuk di sekitar kolam.

3. Kodok

Makan telur telur ikan. Pengendalian: sering membuang telur yang

mengapung; menagkap dan membuang hidup-hidup.

4. Ular

Menyerang benih dan ikan kecil. Pengendalian: lakukan penangkapan;

pemagaran kolam.

5. Lingsang

Memakan ikan pada malam hari. Pengendalian:pasang jebakan

berumpun.

6. Burung

Memakan benih yang berwarna menyala seperti merah, kuning.

Pengendalian: diberi penghalang bambu agar supaya sulit menerkam;

diberi rumbai-rumbai atau tali penghalang.

7. Ikan gabus

Memangsa ikan kecil. Pengendalian:pintu masukan air diberi saringan

atau dibuat bak filter.

8. Belut dan kepiting

Pengendalian: lakukan penangkapan.

2. Penyakit

1. Bintik merah (White spot)

Gejala: pada bagian tubuh (kepala, insang, sirip) tampak bintik-bintik

putih, pada infeksi berat terlihat jelas lapisan putih, menggosok-gosokkan

badannya pada benda yang ada disekitarnya dan berenang sangat lemah

serta sering muncul di permukaan air.

Pengendalian: direndam dalam larutan Methylene blue 1% (1 gram dalam

100 cc air) larutan ini diambil 2-4 cc dicampur 4 liter air selama 24 jam

dan Direndam dalam garam dapur NaCl selama 10 menit, dosis 1-3

gram/100 cc air.

2. Bengkak insang dan badan ( Myxosporesis)

Gejala: tutup insang selalu terbuka oleh bintik kemerahan, bagian

punggung terjadi pendarahan.

Pengendalian; pengeringan kolam secara total, ditabur kapur tohon 200

gram/m 2 , biarkan selama 1-2 minggu.

3. Cacing insang, sirip, kulit (Dactypogyrus dan girodactylogyrus)

Gejala: ikan tampak kurus, sisik kusam, sirip ekor kadang-kadang rontok,

ikan menggosok-gosokkan badannya pada benda keras disekitarnya,

terjadi pendarahan dan menebal pada insang.

Pengendalian:

1. direndan dalam larutan formalin 250 gram/m3 selama 15 menit

dan direndam dalam Methylene blue 3 gram/m3 selama 24 jam;

2. hindari penebaran ikan yang berlebihan.

4. Kutu ikan (argulosis)

Gejala: benih dan induk menjadi kurus, karena dihisap darahnya. Bagian

kulit, sirip dan insang terlihat jelas adanya bercak merah (hemorrtage).

Pengendalian:

1. ikan yang terinfeksi direndan dalam garam dapur 20 gram/liter air

selama 15 menit dan direndam larutan PK 10 ppm (10 ml/m3)

selama 30 menit;

2. dengan pengeringan kolam hingga retak-retak.

5. Jamur (Saprolegniasis)

Menyerang bagian kepala, tutup insang, sirip dan bagian yang lainnya.

Gejala: tubuh yang diserang tampak seperti kapas. Telur yang terserang

jamur, terlihat benang halus seperti kapas.

Pengendalian: direndam dalam larutan Malactile green oxalat (MGO)

dosis 3 gram/m3 selama 30 menit; telur yang terserang direndam dengan

MGO 2-3 gram/m3 selama 1 jam.

6. Gatal (Trichodiniasis)

Menyerang benih ikan.

Gejala: gerakan lamban; suka menggosok-gosokan badan pada sisi

kolam/aquarium.

Pengendalian: rendam selam 15 menit dalam larutan formalin 150-200

ppm.

7. Bakteri psedomonas flurescens

Penyakit yang sangat ganas.

Gejala: pendarahan dan bobok pada kulit; sirip ekor terkikis.

Pengendalian: pemberian pakan yang dicampur oxytetracycline 25-30

mg/kg ikan atau sulafamerazine 200mg/kg ikan selama 7 hari berturutturut.

8. Bakteri aeromonas punctata

Penyakit yang sangat ganas.

Gejala: warna badan suram, tidak cerah; kulit kesat dan melepuh; cara

bernafas mengap-mengap; kantong empedu gembung; pendarahan

dalam organ hati dan ginjal.

Pengendalian: penyuntikan chloramphenicol 10-15 mg/kg ikan atau

streptomycin 80-100 mg/kg ikan; pakan dicampur terramicine 50 mg/kg

ikan selama 7 hari berturut-turut.

Secara umum hal-hal yang dilakukan untuk dapat mencegah timbulnya penyakit dan

hama pada budidaya ikan mas:

1. Pengeringan dasar kolam secara teratur setiap selesai panen.

2. Pemeliharaan ikan yang benar-benar bebas penyakit.

3. Hindari penebaran ikan secara berlebihan melebihi kapasitas.

4. Sistem pemasukan air yang ideal adalah paralel, tiap kolam diberi satu pintu

pemasukan air.

5. Pemberian pakan cukup, baik kualitas maupun kuantitasnya.

6. Penanganan saat panen atau pemindahan benih hendaknya dilakukan secara

hati-hati dan benar.

7. Binatang seperti burung, siput, ikan seribu (lebistus reticulatus peters) sebagai

pembawa penyakit jangan dibiarkan masuk ke areal perkolaman.

8. PANEN

1. Pemanenan Benih

Sebelum dilakukan pemanenan benih ikan, terlebih dahulu dipersiapkan alat-alat

tangkap dan sarana perlengkapannya. Beberapa alat tangkap dan sarana yang

disiapkan diantaranya keramba, ember biasa, ember lebar, seser halus sebagai

alat tangkap benih, jaring atau hapa sebagai penyimpanan benih sementara,

saringan yang digunakan untuk mengeluarkan air dari kolam agar benih ikan

tidak terbawa arus, dan bak-bak penampungan yang berisi air bersih untuk

penyimpanan benih hasil panen. Panen benih ikan dimulai pagi-pagi, yaitu

antara jam 04.00–05.00 pagi dan sebaiknya berakhir tidak lebih dari jam 09.00

pagi. Hal ini dimaksudkan untuk menghindari terik matahari yang dapat

mengganggu benih ikan kesehatan tersebut. Pemanenan dilakukan mula-mula

dengan menyurutkan air kolam pendederan sekitar pkul 04.00 atau 05.00 pagi

secara perlahan-lahan agar ikan tidak stres akibat tekanan air yang berubah

secara mendadak. Setelah air surut benih mulai ditangkap dengan seser halus

atau jaring dan ditampung dalam ember atau keramba. Benih dapat dipanen

setelah dipelihara selama 21 hari. Panenan yang dapat diperoleh dapat

mencapai 70-80% dengan ukuran benih antara 8-12 cm.

2. Cara Perhitungan

Benih Untuk mengetahui benih ikan hasil panenan yang disimpan dalam bak

penyimpanan maka sebelum dijual, terlebih dahulu dihitung jumlahnya. Cara

menghitung benih umumnya dengan memakai takaran, yaitu dengan

menggunakan sendok untuk larva dan kebul, cawan untuk menghitung putihan,

dan dihitung per ekor untuk benih ukuran glondongan. Penghitungan benih

biasanya dengan cara:

1. Penghitungan dengan sendok.

2. Penghitungan dengan mangkok.

3. Pembersihan

Pada umumnya, dasar kolam pendederan sudah dirancang miring dan ada

saluran di tengah kolam, selain itu pada dasar kolam tersebut ada bagian yang

lebih dalam dengan ukuran 1-2 meter persegi sehingga ketika air menyurut,

maka benih ikan akan mengumpul di bagian kolam yang dalam tersebut. Benih

ikan lalu ditangkap sampai habis dan tidak ada yang ketinggalan dalam kolam.

Benih ikan tersebut semuanya disimpan dalam bak-bak penampungan yang

telah disiapkan.

4. Pemanenan Hasil Pembesaran

Untuk menangkap/memanen ikan hasil pembesaran umumnya dilakukan panen

total. Umur ikan mas yang dipanen berkisar antara 3-4 bulan dengan berat

berkisar antara 400-600 gram/ekor. Panen total dilakukan dengan cara

mengeringkan kolam, hingga ketinggian air tinggal 10-20 cm. Petak pemanenan /

petak penangkapan dibuat seluas 2 meter persegi di depan pintu pengeluaran

(monnik), sehingga memudahkan dalam penangkapan ikan. Pemanenan

dilakukan pagi hari saat keadaan tidak panas dengan menggunakan waring atau

scoopnet yang halus. Lakukan pemanenan secepatnya dan hati-hati untuk

menghindari lukanya ikan.

9. PASCAPANEN

Penanganan pascapanen ikan mas dapat dilakukan dengan cara penanganan ikan

hidup maupun ikan segar.

1. Penanganan ikan hidup

Adakalanya ikan konsumsi ini akan lebih mahal harganya bila dijual dalam

keadaan hidup. Hal yang perlu diperhatikan agar ikan tersebut sampai ke

konsumen dalam keadaan hidup, segar dan sehat antara lain:

1. Dalam pengangkutan gunakan air yang bersuhu rendah sekitar 20 derajat

C.

2. Waktu pengangkutan hendaknya pada pagi hari atau sore hari.

3. Jumlah kepadatan ikan dalam alat pengangkutan tidak terlalu padat.

2. Penanganan ikan segar

Ikan segar mas merupakan produk yang cepat turun kualitasnya. Hal yang perlu

diperhatikan untuk mempertahankan kesegaran antara lain:

1. Penangkapan harus dilakukan hati-hati agar ikan-ikan tidak luka.

2. Sebelum dikemas, ikan harus dicuci agar bersih dan lendir.

3. Wadah pengangkut harus bersih dan tertutup. Untuk pengangkutan jarak

dekat (2 jam perjalanan), dapat digunakan keranjang yang dilapisi

dengan daun pisang/plastik. Untuk pengangkutan jarak jauh digunakan

kotak dan seng atau fiberglass. Kapasitas kotak maksimum 50 kg dengan

tinggi kotak maksimum 50 cm.

4. Ikan diletakkan di dalam wadah yang diberi es dengan suhu 6-7 derajat

C. Gunakan es berupa potongan kecil-kecil (es curai) dengan

erbandingan jumlah es dan ikan=1:1. Dasar kotak dilapisi es setebal 4-5

cm. Kemudian ikan disusun di atas lapisan es ini setebal 5-10 cm, lalu

disusul lapisan es lagi dan seterusnya. Antara ikan dengan dinding kotak

diberi es, demikian juga antara ikan dengan penutup kotak.

3. Sedangkan hal-hal yang perlu diperhatikan dalam pananganan benih adalah

sebagai berikut:

1. Benih ikan harus dipilih yang sehat yaitu bebas dari penyakit, parasit dan

tidak cacat. Setelah itu, benih ikan baru dimasukkan ke dalam kantong

plastik (sistem tertutup) atau keramba (sistem terbuka).

2. Air yang dipakai media pengangkutan harus bersih, sehat, bebas hama

dan penyakit serta bahan organik lainya. Sebagai contoh dapat

digunakan air sumur yang telah diaerasi semalam.

3. Sebelum diangkut benih ikan harus diberok dahulu selama beberapa hari.

Gunakan tempat pemberokan berupa bak yang berisi air bersih dan

dengan aerasi yang baik. Bak pemberokan dapat dibuat dengan ukuran 1

m x 1 m atau 2 m x 0,5 m. Dengan ukuran tersebut, bak pemberokan

dapat menampung benih ikan mas sejumlah 5000–6000 ekor dengan

ukuran 3-5 cm. Jumlah benih dalam pemberokan harus disesuaikan

dengan ukuran benihnya.

4. Berdasarkan lama/jarak pengiriman, sistem pengangkutan benih terbagi

menjadi dua bagian, yaitu:

􀂃 Sistem terbuka

Dilakukan untuk mengangkut benih dalam jarak dekat atau tidak

memerlukan waktu yang lama. Alat pengangkut berupa keramba.

Setiap keramba dapat diisi air bersih 15 liter dan dapat untuk

mengangkut sekitar 5000 ekor benih ukuran 3-5 cm.

􀂃 Sistem tertutup

Dilakukan untuk pengangkutan benih jarak jauh yang memerlukan

waktu lebih dari 4-5 jam, menggunakan kantong plastik. Volume

media pengangkutan terdiri dari air bersih 5 liter yang diberi buffer

Na2(hpo)4.H2O sebanyak 9 gram.

Cara pengemasan benih ikan yang diangkut dengan kantong

plastik:

1. masukkan air bersih ke dalam kantong plastik kemudian

benih;

2. hilangkan udara dengan menekan kantong plastik ke

permukaan air;

3. alirkan oksigen dari tabung dialirkan ke kantong plastik

sebanyak 2/3 volume keseluruhan rongga

(air:oksigen=1:2);

4. kantong plastik lalu diikat.

5. kantong plastik dimasukkan ke dalam dos dengan posisi

membujur atau ditidurkan. Dos yang berukuran panjang

0,50 m, lebar 0,35 m, dan tinggi 0,50 m dapat diisi 2 buah

kantong plastik.

Beberapa hal yang perlu diperhatikan setelah benih sampai di tempat tujuan adalah

sebagai berikut:

1. Siapkan larutan tetrasiklin 25 ppm dalam waskom (1 kapsul tertasiklin dalam 10

liter air bersih).

2. Buka kantong plastik, tambahkan air bersih yang berasal dari kolam setempat

sedikit demi sedikit agar perubahan suhu air dalam kantong plastik terjadi

perlahan-lahan.

3. Pindahkan benih ikan ke waskom yang berisi larutan tetrasiklin selama 1- 2

menit.

4. Masukan benih ikan ke dalam bak pemberokan. Dalam bak pemberokan benih

ikan diberi pakan secukupnya. Selain itu, dilakukan pengobatan dengan

tetrasiklin 25 ppm selama 3 hari berturut-turut. Selain tetrsikli dapat juga

digunakan obat lain seperti KMNO4 sebanyak 20 ppm atau formalin sebanyak

4% selama 3-5 menit.

5. Setelah 1 minggu dikarantina, tebar benih ikan di kolam budidaya.

10. ANALISIS EKONOMI BUDIDAYA

1. Analisis Usaha Budidaya

Analisis budidaya ikan mas koki dengan luas lahan 70 m 2 (kapasitas 1000 ekor)

selama 7 bulan pada tahun 1999 di daerah Jawa Barat.

1. Biaya produksi

1. Sewa dan pembuatan kolam Rp. 1.500.000,-

2. Benih ikan 1.000 ekor, @ Rp.100,- Rp. 100.000,-

3. Pakan

􀂃 Cacing rambut 150 kg @ Rp. 1.500,- Rp. 225.000,-

􀂃 Pelet udang 10 kg @ Rp. 9.500,- Rp. 95.000,-

􀂃 Tepung jagung 50 kg @ Rp. 1.500,- Rp. 75.000,-

􀂃 Ganti air 7 bulan x 4 x2 @ Rp. 5.000,- Rp. 140.000,-

􀂃 Tenaga kerja 28 minggu @ Rp.10.000,- Rp. 280.000,-

􀂃 Obat-oabatan Rp. 10.000,-

4. Peralatan Rp. 50.000,-

5. Lain-lain Rp. 150.000,-

Jumlah biaya produksi Rp. 2.625.000,-

2. Pendapatan

1. Panen I (2 bulan) 400 ekor @ Rp.1.000,- Rp. 400.000,-

2. Panen II (4 bulan) 250 ekor @ Rp. 3.000,- Rp. 750.000,-

3. Panen III ( 2 bulan) 250 ekor @ Rp. 10.000,- Rp. 2.500.000,-

Jumlah pendapatan Rp. 3.650.000,-

3. Keuntungan dalam 7 bulan Rp. 1.025.000,- --> Keuntungan per bulan Rp.

146.425,-

4. Parameter kelayakan usaha : B/C ratio 1,39

2. Gambaran Peluang Agribisnis

Dengan adanya luas perairan umum di Indonesia yang terdiri dari sungai, rawa,

danau alam dan buatan seluas hampir mendekati 13 juta ha merupakan potensi

alam yang sangat baik bagi pengembangan usaha perikanan di Indonesia.

Disamping itu banyak potensi pendukung lainnya yang dilaksanakan oleh

pemerintah dan swasta dalam hal permodalan, program penelitian dalam hal

pembenihan, penanganan penyakit dan hama dan penanganan pasca panen,

penanganan budidaya serta adanya kemudahan dalam hal periizinan import.

Walaupun permintaan di tingkal pasaran lokal akan ikan mas dan ikan air tawar

lainnya selalu mengalami pasang surut, namun dilihat dari jumlah hasil penjualan

secara rata-rata selalu mengalami kenaikan dari tahun ke tahun. Apabila

pasaran lokal ikan mas mengalami kelesuan, maka akan sangat berpengaruh

terhadap harga jual baik di tingkat petani maupun di tingkat grosir di pasar ikan.

Selain itu penjualan benih ikan mas boleh dikatakan hampir tak ada masalah,

prospeknya cukup baik. Selain adanya potensi pendukung dan faktor permintaan

komoditi perikanan untuk pasaran lokal, maka sektor perikanan merupakan salah

satu peluang usaha bisnis yang cerah.

11. DAFTAR PUSTAKA

1. DAMANA, Rahman. 1990. Pembenihan Ikan Mas Secara Intensif dalam Sinar

Tani. 2 ,Juni 1990 hal. 2

2. GUNAWAN. Mengenal Cara Pemijahan Ikan Mas dalam Sinar Tani. 27 Agustus

1988 hal. 5

3. RUKMANA, Rahmat. 1991. Budidaya Ikan Mas, Untungnya Bagai Menabung

Emas dalam Sinar Tani. 13 Februari 1991 hal. 5

4. RUKMANA, Rahmat. 1992. Prospek Usaha Ikan Mas Menggiurkan Dan

Menguntungkan dalam Suara Karya. 18 Februari 1992 hal. 7

5. SANTOSO, Budi. 1993. Petunjuk praktis : Budidaya ikan mas. Yogyakarta :

Kanisius.

6. SUMANTADINATA, Komar. 1981. Pengembangbiakan ikan-ikan peliharaan di

Indonesia. Jakarta : Sastra Hudaya.

7. SUSENO, Djoko. 1999. Pengelolaan usaha pembenihan ikan mas, cet. :7.

Jakarta : Penebar Swadaya.

12. KONTAK HUBUNGAN

Proyek Pengembangan Ekonomi Masyarakat Pedesaan – BAPPENAS;

Jl.Sunda Kelapa No. 7 Jakarta, Tel. 021 390 9829 , Fax. 021 390 9829

Sumber : Proyek Pengembangan Ekonomi Masyarakat Pedesaan, Bappenas

Tidak ada komentar:

Posting Komentar